Mengenang Sang Guru Sejati: Ki Hajar Dewantara

khd“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Soekarno – Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961). Di bidang pendidikan nasional pahlawan kita adalah Ki Hajar Dewantara. Dari namanya, dapat dipahami bahwa beliau menempatkan dirinya sebagai guru sejati yang menjadi penghubung manusia dengan Tuhan dan Tuhan dengan manusia. Karena keterhubungan manusia dengan Tuhan merupakan wujud sejati kesempurnaan hidup manusia.

Begitu mulianya sang guru sejati yang telah memberi keteladanan dan bimbingan agar manusia mengenal Tuhannya. Itulah yang menjadi cita-cita pahlawan nasional kita di bidang pendidikan ini. Untuk sampai ke puncak kesempurnaan ada proses pembelajaran: pengenalan diri dan lingkungan budaya. Agar manusia Indonesia menjadi manusia yang mandiri. Agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.


Dari pemikiran Ki Hajar Dewantara maka lahirlah sistem Pendidikan nasional. Semangat beliau untuk menjadi guru sejati dibuktikan dengan mengganti namanya. Semula bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau tanggalkan gelar darah biru yang melekat pada namanya: Raden Mas, dan mengganti dengan Ki Hajar (Sang Guru). Perubahan nama tersebut menjadi bukti kemuliaan dan kebesaran visi dan misi beliau untuk bangsa Indonesia.

Wujud nyata pengabdiannya, dibangun lembaga pendidikan Taman Siswa untuk masyarakat biasa pada zaman penjajahan Belanda di Yogyakarta yang sampai sekarang masih ada. Anak didik dibentuk jiwanya dengan karakter yang baik, dipertajam kognitifnya dengan pengetahuan modern dan raganya dipersehat dan diperkuat. Itulah inti sari dari proses pendidikan yang dilakukannya.

Presiden Soekarno memberikan penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan dengan mengangkatnya menjadi Menteri Pendidikan pertama di republik ini dan kemudian menetapkan beliau sebagai pahlawan nasional di bidang pendidikan yang hari lahirnya diperingati sebagai hari pendidikan nasional.

Sebagai anak bangsa kita wajib memberi penghormatan atas jasa-jasanya yang telah diberikan kepada bangsa ini. Bentuk penghormatan yang baik adalah meneladani semangat hidupnya dan mengemban visi dan misi beliau di bidang pendidikan. Karena melalui lembaga pendidikan inilah kita membangun masa depan bangsa yang dicita-citakan. Perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik bermula dari lembaga pendidikan. Sangat tepat apabila dikatakan bahwa lembaga pendidikan menjadi wadah untuk perubahan dan guru adalah agen perubahan.

Berikut adalah di antara pemikiran beliau yang sangat akrab dengan kita dan penting diteladani:

Ke-1, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Terjemahan bebasnya adalah: ketika di depan (memimpin) hendaklah memberi keteladanan, ketika di tengah (anggota biasa) hendaklah memberi semangat dan ketika di belakang hendaklah memberi motivasi.

Ke-2, Asih, Asah dan Asuh. Asih adalah mengasihi anak secara psikis agar terbentuk karakter atau jiwa yang saling menyayangi terhadap sesama. Asah adalah menajamkan intelektual atau pola pikir anak agar menjadi manusia yang cerdas dan pintar secara intelektual. Asuh adalah pemeliharaan anak secara fisik agar sehat dan kuat jasmaninya.

Semoga Indonesia menjadi bangsa yang besar dengan menghormati para pahlawan dengan cara meneladani dan mengikuti setiap kata, sikap dan perilaku para pahlawan. Dalam kesempatan kali ini kita teladani pahlawan pendidikan: Ki Hajar Dewantara, Sang Guru Perantara Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.